Ketika berusia 20an, ada banyak tujuan yang patokannya adalah sebelum usiaku 25 tahun. Tapi setelah itu, lalu apa?

Ketika beranjak dewasa, aku punya kepercayaan bahwa usia 25 manusia adalah momen yang cukup penting. Ada sederet checklist yang kususun dengan patokan usia tersebut, dan surprisingly ketika aku menengok kembali daftar keinginan yang pernah kurencanakan tersebut, hampir semuanya terjadi — bahkan di beberapa bagian dikasih bonus!

Mulanya, sama seperti semua orang yang berhasil melakukan sesuatu, aku pun merasa senang dan terharu. Nggak nyangka udah jalan sejauh ini. Tapi tepat saat itu juga, aku justru mulai mempertanyakan setelah ini mau apa.

Aku mulai menata lebih rapi pilihan karierku, menyusun rencana-rencana keuangan yang lebih proper, hingga memulai hidup yang baru dengan orang…


Sebagai pengguna Twitter sejak SMP dan berganti akun 2 kali, aku rasa, Twitter menjadi salah satu saksi sejarah yang mungkin dalam beberapa dekade ke depan — kalo belum bangkrut — akan kubaca lagi sambil senyum-senyum mengingat betapa random perkembanganku sebagai manusia.

fighting by unsplash

Ada suatu masa di mana aku masih sering kenalan dengan orang dari Twitter, sepik-sepikan di Twitter, sampai patah hati di Twitter. Masa kuliahku tidak kalah nanggung. Ada waktu di mana aku jadi mahasiswa super idealis, mahasiswa yang jarang kuliah, sampai mahasiswa yang merangkap fulltimer yang lebih sering ngantor daripada ngampus.

Berkat Twitter, aku dapat pekerjaan pertamaku sebagai ‘social media specialist’ yang waktu itu dikenalnya ya admin aja gitu sih. Twitter pula yang mengantar mahasiswa psikologi sepertiku untuk nyemplung di dunia digital marketing.

Sampai akhirnya aku dewasa dan malu dengan twitku sendiri. Aku malu dengan twit receh galau jaman dighosting orang…


Di tulisan ini, kamu akan menemukan cara belajar yang tidak perlu bayar.

Di PMM Lyfe #1, saya sudah sedikit menyinggung prinsip bahwa belajar digital marketing itu pada dasarnya adalah soal menguasai tools. Kalau kamu sudah memahami toolsnya, insyallah 50% kepegang. Sisanya improve sendiri dengan cara:

  1. Bantu-bantu project temen/saudara/dosen/siapapun yang membutuhkan
  2. Internship di tempat yang kamu berkesempatan belajar langsung dan mentoring dengan orang yang kamu anggap keren/jago/kayaknya gewd aja
  3. Kerja beneran

Dengan begini, mungkin kamu nggak perlu bayar mahal untuk ikut course atau kelas-kelas yang jujur kadang menurutku rada nggak guna. Kenapa saya yakin? Karena selama ini, saya hampir nggak pernah ngeluarin biaya untuk cuma belajar. …


Disclaimer: tulisan ini tidak disertai riset ndakik-ndakik, tidak berdasarkan jurnal A atau mengutip riset B

Well, pertama-tama, saya harus bilang bahwa tulisan ini dibuat dalam rangka mempromosikan skill digital marketing dengan cuma-cuma. Terlepas dari masalah passion atau preferensi kerja hura-hura, barangkali yang bisa yakini dan sampaikan ke semua orang tentang digital marketing adalah skill ini insyallah menyelamatkan saya — dan mungkin kita semua.

Mengapa? Karena seapes-apesnya kita nggak bisa kerja di perusahaan, kita masih punya kesempatan untuk freelance meski minim bakat dan tools ndakik-ndakik kayak kalau kamu mau freelance sebagai ‘tukang gambar’ atau ‘tukang coding’ yang minimal banget harus punya bakat/laptop yang mumpuni.

Di momen pandemi seperti ini, saya ingin mempromosikan skill digital marketing sebagai…


Tulisan ini sekaligus memperingati 25 tahun usia saya saat ini.

Jujur saja tadinya platform ini saya maksudkan untuk tulisan-tulisan saya yang lebih ‘niat’. Entah saya berniat menulis fiksi yang lumayan punya nilai cerita, ataupun esai-esai naratif mengenai pengembangan diri, karier, dan lain sebagainya.

Apa daya. Pekerjaan bertubi-tubi menyita waktu, tenaga, dan pikiran saya untuk hanya fokus satu hal: leads generation.

Pandemi membawa babak baru dalam perjalanan karier saya selama ini. Masih ingat bahwa dulu sekali saya selalu mengatakan pada orang-orang, saya ingin jadi digital nomad. Saya mau bebas bekerja dari rumah, tidak perlu ke kantor, bangun tidur langsung kerja, tapi saya punya uang — more than enough. …


Tulisan ini tidak ditujukan kepada sobat indie ngehe yang kantornya hampir nggak punya aturan masuk/enggak.

Disclaimer di atas sengaja aku tulis besar-besar untuk menanggapi sebagian besar sobat indie ngehe yang merasa udah biasa kerja remote before it was cool dan bisanya cuma nyela orang aja. WKWK. Mungkin tadinya aku juga salah satunya. Tapi melihat problema ini semakin serius, aku menjadi resah dan akhirnya memutuskan untuk menulis.

Mungkin ini agak telat karena toh kalian udah seminggu work from home dan asik-asik aja, tapi ya udah lah ya. Mari kita mulai dengan prinsip mendasar: aku nggak suka namanya WFH, kerja jarak jauh itu udah cukup common di industri tempatku kerja, dan itu disebut dengan remote working. …


Catatan-catatan dari marketer yang punya privilege bisa kerja jarak jauh.

work from home and chill

Menyusul adanya himbauan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai bekerja dari rumah untuk memperlambat laju penyebaran Covid-19, istilah work from home kini tiba-tiba diperbincangkan oleh banyak orang.

Sejak awal saya kerja, technically saya sebenarnya juga melakukan ‘work from home’ alias nggak pernah ke kantor. Saya mengawali karier sebagai freelancer. Dulu ketika kost-kostan masih panas, coffeeshop di Jogja yang playlist musiknya indie adalah tempat favorit untuk bekerja. Kemudian saya mendapatkan pekerjaan full-time saya untuk pertama kali ketika tahun terakhir kuliah, itu pun masih bersifat remote. Saya melakukan wawancara di kost-kostan — belum mandi jujur aja.

Kami sebenarnya punya kantor di Jogja…


Catatan-catatan dalam satu dekade.

Source: Unsplash.com

2010. Banyak yang patah dalam hari-hari di 2010. Seingatku ini untuk pertama kalinya namaku muncul di surat kabar lokal bersama teman, murid, dan rival sejak SD. Kami baru menyelesaikan kompetisi penyisihan dan bersiap untuk posisi ‘juara’ tahun ini seperti yang digadang-gadang orang.

Selangkah lagi kami mungkin mengalungi medali, tapi tepat sebelum aku berhadapan dengan soal kelinci beranak, temanku tiba-tiba bilang, “Kita nggak usah lolosin ya, Er? Biar aku pulang, besok ikut lomba lagi yang bisa ketemu Mawar — nama samaran, red.”

“Kamu maunya gitu, ya? Ya udah.”

Sesuai rencana kami pulang hari itu dan aku mendoakan semua yang baik-baik sesampainya…


buku ‘anak startup’

Kata orang-orang yang lebih tua, sebagai millennial, kami ini adalah tipikal kaum pekerja yang paling menyebalkan. Dedikasi rendah, nggak loyal, cepat bosan, dan banyak tuntutan. Saya nggak tahu harus bagaimana menyikapinya.

Pertama, pendapat saya bisa jadi bias karena sejak awal bekerja, saya ada di lingkungan kerja yang sangat sedikit ‘orang yang lebih tua’ bekerja sebagai partner. Paling tua ya 30–40an tahun lah. Kedua, saya belum pernah dealing secara langsung dengan iklim korporat di daily basis saya. Kalau bekerja dalam kapasitas klien, sering, tapi kalau beneran day-to-day-nya sama mereka, belum pernah. …


source: unsplash.com

“Bagaimana seseorang bisa menjadi seorang pembunuh? Apakah memang mereka dilahirkan sebagai pembunuh atau takdir yang membuat mereka jadi pembunuh?”

“Kamu pikir mereka lahir untuk menjadi pembunuh? Jika kita tahu lebih awal, mereka tidak akan banyak merepotkan orang seperti kita. Cukup kita penjara saja sejak kecil agar mereka tidak jadi membunuh.”

— petikan dialog serial di Netflix yang aku lupa judulnya apa.

Sebagian besar dari kita mungkin ada yang percaya bahwa mesin waktu itu sungguhan ada. Beberapa dari kita, mungkin berharap mesin waktu itu tersedia untuk diperjualbelikan, atau paling tidak disewakan. …

Ervina Lutfi

a writer & professional B2B marketer

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store