Sitemap

Cerita Ahu dan Catatan-catatan Personalku

3 min readSep 1, 2025

--

Press enter or click to view image in full size
cuma seorang warga sipil yang mau hidup di negara yang lebih baik

Aku sedang beristirahat setelah serangkaian meeting dan diskusi dalam tiga bahasa kuikuti sejak pagi. Hari-hari ini pekerjaan di kantorku sedang banyak sekali — hal yang entah kenapa membuatku bersyukur di tengah ekonomi yang memburuk dan jutaan orang tidak punya pekerjaan. Karena dampak ekonomi, kantorku pun berada di mode survival, kata bos-bos, we must be ‘self-sufficient’.

Di tengah waktuku yang senggang sambil meminum kopi pahit yang esnya mulai mencair, aku membuka Twitter dan menemukan sebuah post yang mengarah ke situs berita Republika, sebuah liputan berita tentang seseorang yang ‘ketinggalan rombongan’ untuk ikut menjarah dan membuat huru-hara di Jakarta.

Sebagai orang yang setuju untuk demonstrasi, dan beberapa kali aku ikut turun ke jalan, demonstrasi kali ini benar-benar suspicious. Bahasan soal mengapa demo ini sus dan membingungkan (terutama buat mereka yang belum pernah atau baru ikut demonstrasi) akan kubahas lain kali, karena di tulisan ini aku lebih mau bicara soal Ahu — si laki-laki yang ketinggalan rombongan.

Ketika membaca liputan soal Ahu, perasaanku sungguh campur-aduk. Aku marah, kesal, tapi dalam kemarahan dan kekesalan itu, aku justru lebih merasa sedih — satu perasaan sedih yang sulit dijelaskan.

Press enter or click to view image in full size
potongan berita dari Republika

Ahu lahir di tahun 2004 — dia seusia adikku yang saat ini masih kuliah. Mestinya, dalam sistem bernegara yang baik, Ahu masih menempuh pendidikan tinggi, dia harusnya mempersiapkan masa depannya di tengah gejolak ekonomi yang membuat ia dan teman-temannya ini akan bertempur mati-matian untuk dapat pekerjaan.

Namun, alih-alih belajar, atau paling nggak bersiap ikut job fair lah, Ahu cuma jadi alat propaganda pihak-pihak yang membuatnya nyaris tidak punya masa depan — aku yakin itu pihak yang sama dengan mereka yang mengacaukan negara ini.

Ahu adalah pemuda dari desa, ia cuma lulus SD, dan bekerja sebagai petani yang bahkan tidak punya lahan sendiri. Ahu adalah jutaan orang di Indonesia yang menjadi potret bagaimana kegagalan negara ini begitu sistematik — ia dibuat bodoh dan miskin, lalu kebodohan dan kemiskinan ini dibuat sebagai alat yang akan terus mereproduksi kebodohan dan kemiskinan pada generasi-generasi setelah Ahu.

Kalau kamu tanya padaku seberapa benci aku pada pemerintah, aku menjawab 100% — haqqul yaqin bahwa aku benci. Nggak ada keraguan sedikit pun dari diriku jika telunjukku harus pointing kesalahan ini pada siapa dan siapa yang harus bertanggung-jawab, itu adalah pemerintah.

Mengapa? Karena hanya mereka lah, dengan instrumen yang sebesar itu, yang bisa menyelesaikan masalah sistematik sekompleks ini.

Aku miris sekali dengan korupsi yang terjadi di sektor pendidikan. Aku bahkan sensitif dengan orang yang kerjaannya berusaha mengambil untung dari sistem pendidikan kita yang berantakan. Dan aku benci dengan POLRI yang mengambil anggaran sebesar itu ketika menggaji guru bisa dianggap beban keuangan negara.

Hari-hari ini aku merasa lelah. Aku marah, namun aku lebih merasa sedih dan bingung. Tidak dipungkiri bahwa apa yang terjadi di negara ini sedikit banyak mempengaruhi keputusanku secara personal — aku di level merasa bingung dan bersalah jika suatu hari aku punya anak. Pikiranku bertanya-tanya, mungkinkah dia benci dilahirkan di tengah dunia yang sedang kayak gini? Mungkinkah dia akan menyalahkan keputusan kami untuk melahirkan dia?

Apakah ada yang masih bisa orang-orang sepertiku lakukan? To make the world safer and better — yang kalaupun ini tidak dipanen pada generasiku, paling nggak aku tidak mau generasi anakku (kalau aku punya anak) harus menanggung rasa bingung, marah, dan setidakberdaya itu.

Aku memutuskan terus bersuara, terus menuntut — pada apapun yang aku bisa. Karena sekecil apapun perlawanan, ia tetaplah perlawanan.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru terasa
Sesudah kita bergelut
Dengan hidup.

--

--

Ervina Lutfi
Ervina Lutfi

Written by Ervina Lutfi

“…you write because the brain is an endless wilderness, whose roughest terrain can be traveled only with a pencil.”