Sitemap

Cewek Red Flag dan Medium Ugly Men

4 min readNov 19, 2025

Aku mengenal satu orang dari sirkel suamiku sebut saja dia R. Pertama kali mendengar nama itu ketika suamiku nyeletuk, “Ada orang kantorku cerita, dia habis ribut dengan istrinya karena ketahuan chat-chatan dengan sales dari perusahaan rekanan.” Ketika diceritakan hal itu, aku agak mengernyit — heran.

Seorang istri marah karena suaminya chat-chatan tentu bukan karena chat soal kerjaan ya. Lagipula menurut cerita suamiku, istri si R bukan cewek suwung random, dia lulusan kampus ternama, bekerja di perusahaan BUMN, ibu dari dua anak — rasanya kayak suwung aja dia harus fighting over unnecessary thing kalau emang itu nggak ‘too much’ ya.

Di titik itu, aku mulai nggak suka dengar cerita kerandoman si R dan si sales partner, kegenitan-kegenitannya yang menjijikkan, serta gerak-gerik yang luar biasa bangsat. Seperti dugaanku, R bukan laki-laki gagah rupawan. Secara fisik sangat medium-ugly kalau nggak bisa dibilang jelek rata-rata. Financially, damn, just middle class random like us. Seperti kubilang tadi, dia masih kerja kantoran biasa kayak suamiku. Bukan yang sekelas direktur atau C level gitu — babu-babu juga.

Suatu hari aku baru tahu kalau suamiku ternyata jadi korban harassment di grup kantornya. Dan sialannya, salah satu harassernya adalah si R. Salah satu, karena mereka berbanyak — khas loser ketika melakukan bullying, beraninya keroyokan dan ke orang yang dipandang ‘lebih lemah’ secara relasi kuasa.

Meski jijik, aku memutuskan membaca semua chat di grup itu sejak awal. Benar-benar sejak awal. Well, aku tahu keberadaan grup itu, dan sesekali aku baca isinya, tapi aku nggak pernah menyangka kalau di antara chat-chat soal kerjaan itu, ketika dibaca dengan cermat, tersimpan banyak sekali pelecehan yang benar-benar membuatku bergidik, sekaligus mual. R ada di sana, sebagai pelaku juga enabler.

Soal grup harasser ini aku akan menulis lain kali.

Balik ke si R. Suatu hari aku membaca tulisan dia di blog. Ada tulisan dia di tahun 2011 yang menjelaskan ciri-ciri perempuan yang tidak disukai laki-laki. Well, maksudnya pasti ini adalah ciri-ciri perempuan yang tidak dia sukai. Kupikir dia ingin bilang ini ke pacar (atau istrinya?) tapi dia terlalu loser untuk bicara langsung, jadi dia memilih untuk mengutip tulisan receh untuk ditulis ulang di blognya sebagai justifikasi.

Dia bilang, laki-laki (seperti dia) tidak suka perempuan yang mengkritik, menuntut untuk berubah — mencintai harus apa adanya, dan juga clingy — menurutnya laki-laki perlu privasi.

Wow.

Aku cuma wow aja ketika baca tulisan itu. Usia tulisan itu sekarang sudah belasan tahun, dan benar-benar menggambarkan, menjelaskan, mengapa ada laki-laki dewasa yang bisa-bisanya di grup kantor melakukan harassment ke perempuan-perempuan (dan laki-laki) yang lebih muda.

Laki-laki tidak suka dikritik? Tentu. Agar mereka bisa terus langgeng dengan pemikiran misoginisnya.

Cewek tidak berhak menuntut pasangannya? Tentu. Agar laki-laki seperti dia tetap ugly dengan behavior menjijikkannya. Mencintai harus apa adanya — katanya.

Cewek tidak boleh mengetahui apapun yang dilakukan pasangannya, mereka perlu privasi? Pastinya. Agar selalu ada grup-grup yang membicarakan fantasi senggama dengan rekan kantornya, melontarkan lelucon tidak pantas, dan segala hal buruk yang menjijikkan dan kupikir tidak seharusnya terjadi pada manusia yang selalu tampil agamis di depan publik — yah seenggaknya di media sosial.

My husband is not 100% innocent, dia juga bukan pria rupawan tampan, apalagi kaya-raya. My husband, just like R, is just medium ugly salaryman, yang hidup dari gaji dan membangun hubungan bertahtakan cicilan, tapi aku sangat menghargai keterbukaan dan usahanya menerima kritik. Kupikir kami sepakat, orang-orang di generasi kami harusnya sudah belajar banyak dari generasi orang tua-orang tua kami yang hidup dalam relasi pernikahan yang broken.

Dalam relasi kami, kritik adalah salah satu fondasi penting dalam hubungan. Kami memang harus saling mengkritik dan saling menuntut. Yah, meski relasi kami baru kurang lebih 10 tahun dengan umur pernikahan yang baru jalan 5 tahun dan tentu angka ini nggak sebanding dengan ‘senior-seniornya’ yang bangkotan. Tapi setidaknya, kami selalu mengupayakan. Kalau pemikiran R belasan tahun lalu tercermin sekali dari dia saat ini, aku pun berharap keyakinan kami untuk saling memperbaiki diri ini panjang umur.

“Berarti kamu adalah cewek red flag menurut R,” ujar suamiku setengah bercanda setengah serius.

“I’m not just a red flag, I am a nightmare for a man like him,” jawabku serius.

Aku sangat serius. Sungguh demi apapun aku berharap kami nggak pernah bersinggungan — di dunia ini ataupun di neraka. Aku sungguh capek jadi perempuan di dunia ini, harus hidup di tengah laki-laki macam si R dan jutaan R lain di luar sana.

Tapi kalaupun aku harus bersinggungan, kuharap aku akan selalu jadi red flag, jika bukan mimpi buruk buat mereka. Kuharap aku selalu punya rasa berani buat melawan, sekecil-kecilnya, meski harus sunyi-senyap. Lahir jadi perempuan dan miskin udah jadi kartu kekalahan seumur hidupku, aku nggak mau lagi ‘ngalah’ — apalagi hanya untuk medium ugly men di luar sana.

Ervina Lutfi
Ervina Lutfi

Written by Ervina Lutfi

“…you write because the brain is an endless wilderness, whose roughest terrain can be traveled only with a pencil.”