Sitemap

Jenis Orang Bulan Mei

“Berapa besar kemungkinan hidupmu adalah serangkaian terapi yang melelahkan untuk sembuh dari trauma panjang karena dilahirkan?”

5 min readMay 9, 2026

--

Sepanjang pengetahuanku yang sempit ini, hal-hal penting pernah terjadi di bulan Mei. Ki Hadjar Dewantara lahir bulan Mei 1889. Hari Buruh ditetapkan di bulan Mei pada 1889. Boedi Oetomo didirikan bulan Mei 1908. Konferensi Asia-Afrika berlangsung hingga Mei 1955. Isu Dewan Jendral yang berujung pada Genosida 65 mulai berhembus pada bulan Mei 1965.

Pada hari-hari penting bulan Mei sebelum tahun kelahiranku itu, rohku mengembara ke mana-mana, lalu pada suatu hari di bulan Mei tahun 90an, aku lahir di dunia. Suatu hari di tahun 1998, ketika Soeharto sedang didemo besar-besaran dan kelak akhirnya dia turun dari kekuasaannya di bulan Mei 1998, di pelosok kabupaten di pesisir utara Jawa, seorang anak perempuan merayakan ulang tahun untuk kali pertama.

Pernah kutanya pada orang tuaku, “Kenapa aku tidak merayakan ulang tahun sejak tahun pertama?”

Kata mereka, “Itu karena baru di umurmu yang segitu, ekonomi keluarga kita mulai membaik.”

Samar-samar aku ingat memang hari itu aku merayakan ulang tahun di rumah yang kayaknya baru-baru itu kami tempati. Rumah yang daun pintunya cuma di kamar tidur utama dan lantainya masih batu bata kasar. Dari foto-foto yang kulihat, perayaan ulang tahunku untuk kali pertama digelar dengan alas tikar dan ‘kemeriahan’ yang diriku sekarang sulit mengartikan. Meski demikian, kata Bapak, saat itu ekonomi kami membaik — artinya jauh sebelum itu, kami lebih miskin.

Aku pernah membaca sebuah tulisan dari Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu bukunya di Tetralogi Buru — aku lupa yang mana. Di sana, Pram menceritakan soal May-kind — jenis orang bulan Mei. Dalam tradisi Eropa, Mei identik dengan musim semi. Ia dimaknai sebagai kelahiran baru, sebuah pertumbuhan, dan perubahan.

Dalam tulisannya, Pram menyebutkan Minke, sang tokoh utama, adalah May-kind; ia adalah simbol generasi yang sedang tumbuh. Sebagai manusia, Minke memang belum matang, tapi ia menjanjikan. May-kind juga berarti simbol manusia transisi. Minke seorang pribumi, tapi mendapatkan pendidikan Eropa. Dia berpikir modern, tapi hidup dalam struktur feodal kolonial. Sebagai May-kind, Minke juga menjadi simbol yang menandai fase penting, sebab ia sadar pada ketidakadilan sistem.

Kupikir-pikir, dalam riwayat keluarga kami, barangkali aku juga May-kind. Bukan karena secara kebetulan kelahiranku jatuh di bulan Mei, tapi karena kelahiranku menandai perubahan-perubahan kecil di keluarga kami.

Tentu saja aku tidak serevolusioner tokoh Minke dalam tulisan Pram, tapi kelahiranku cukup menandai sebuah awal baru bagi semua orang di keluarga kami. Untuk pertama kalinya di keluarga kami, seseorang dirayakan hari lahirnya. Untuk pertama kalinya, seorang anak merasa diusahakan.

Di keluargaku, aku adalah yang pertama mengenyam pendidikan tinggi. Bapakku bahkan tidak lulus SMA dan ibuku hanya mantan buruh pabrik di Pulo Gadung lulusan SMEA, tapi aku diwisuda dengan gagahnya di sebuah kampus yang, meski sekarang kelihatan sepele, tapi ternyata tidak pernah dijamah siapapun dari tujuh generasi di atasku.

Aku jadi orang pertama yang punya privilege membaca buku, memiliki komputer, bepergian ke luar negeri untuk vakansi, menjadi tenaga kerja intelektual, dan hal-hal yang secara umum mungkin normal dilakukan orang-orang, namun itu tidak terjadi di keluarga miskin.

Merasakan miskin, meski bukan yang termiskin, mengajariku mencintai puisi dan makhluk hidup. Pernah kuberkata pada suamiku — yang juga miskin oleh keadaan, “Sebenarnya bisa aja aku bersikap tidak peduli, misalnya pada orang-orang Papua yang dirampas tanahnya, atau pada bangsa Palestina yang diusir dari rumahnya. Toh, aku tidak mengenal mereka dan hidupku sekarang baik-baik saja di Jakarta. Tapi aku mau mengambil risiko dengan hanya ikut marah.”

Aku diam sejenak.

“Padahal aku juga tidak akan dapat apa-apa. Dan suaraku mungkin tidak didengar siapa-siapa. Kamu tahu kenapa? Itu karena aku mencintai makhluk hidup lainnya. Aku rasa setiap orang berhak untuk hidup dengan lebih baik. Dan kita, sebagai manusia, kurang cukup marah pada ketidakadilan sistem dan orang-orang yang berkuasa.”

Bulan Mei ini, lebih dari 30 tahun sejak kelahiranku. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup. Hal-hal yang kutakutkan, hal-hal yang tidak kupikirkan sebelumnya, terjadi satu per satu.

Jika M. Aan Mansyur bertanya dalam puisinya, seberapa besar aku mengenali masa kecilku yang tersesat di persimpangan, tentu besar sekali kemungkinannya. Kurasa aku bisa menyapanya, mengatakan semua baik-baik saja, tidak perlu sedih. Akan kubilang padanya, apapun yang terjadi, hidup akan begini-begini aja. Semoga yang demikian menghiburnya, dan meyakinkannya untuk tetap hidup.

“Jika di suatu persimpangan, entah di mana, masa kecilmu duduk menangis karena tersesat, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih menyadari kau masa depannya?”

Sambil mendengarkan أنا dari musisi Saudi, Yazeed Fahad, aku membaca-baca lagi buku puisi di rak bukuku yang kini menemukan rumahnya. Di usiaku yang 30an, aku akhirnya memiliki rumahku sendiri, bukan rumah orangtuaku, bukan rumah ibu kostku, tapi rumahku — dan suamiku. Wah.. aku bahkan sudah menikah lebih dari lima tahun.

Pada hari-hari ini, hidup terasa sangat baik-baik saja. Aku menghabiskan waktuku lebih banyak untuk hal-hal yang kusenangi — hal-hal yang dalam sepuluh tahun kukesampingkan karena tidak terlalu menghasilkan uang dan dipandang tidak produktif dalam sistem kapitalisme yang jahat.

Di waktu senggangku, aku membaca puisi-puisi Mahmoud Darwish. Aku bertemu dan berdiskusi soal buku dan film dengan orang-orang. Aku menjalani hidup yang luar biasa sepanjang ingatanku mampu merekam setiap peristiwa.

Namun demikian, semakin aku dewasa, semakin banyak kubaca buku, aku merasa semakin marah — kemarahan yang aneh menurut sebagian orang. Bukan karena tidak bersyukur, aku marah karena dalam kehidupan yang harusnya bisa semenyenangkan ini, ternyata masih ada orang-orang yang bahkan untuk ‘hidup’ aja sulit.

Pada hari pertama bulan Mei kemarin, aku menonton ‘film terlarang’ bersama ‘para tetangga pecinta buku’. Yak, aku sudah menonton Pesta Babi. Aku bukan orang yang mudah menangis tersedu untuk sebuah cerita yang kubaca atau kutonton, tapi menyaksikan film Pesta Babi, sungguh mengiris kemanusiaanku. Kok bisa, orang untuk hidup di tanahnya sendiri aja nggak bisa? Mereka toh, nggak minta kaya-raya atau gimana-gimana, mereka cuma minta bisa hidup!

Di sisi lain, aku tahu, seseorang meminjamkan pesawat pribadinya untuk anak dan menantu penguasa beli roti empat ratus ribu di Amerika. Seseorang menaikkan gaji beberapa orang karyawan puluhan kali lipat atas ‘keberhasilannya’ memecat lebih dari tiga puluh ribu orang karyawan yang lain. Orang-orang ini, ingin seperti apa lagi sih? Sampai kapan ya, mereka tahu rasanya cukup?

Pada akhirnya keheranan itu akan cuma hidup seperti bola bekel yang memantul-mantul di batok kepalaku. Kemarahanku cuma akan jadi riak-riak kecil di Lautan Pasifik. Meski begitu aku harus terus hidup. Aku akan hidup dan menjalani hidup.

Bahkan jika untuk kau sendiri, bahkan hanya untuk saat ini, hiduplah sedikit, hiduplah sedikit. Keajaiban selalu bisa diperbaiki.

Sambil mendengarkan lagu-lagu Yazeed Fahad, hari Sabtu ini aku menyelesaikan catatanku yang panjang soal hari ulang tahun dari anak yang termasuk jenis orang bulan Mei. Kepada diriku di masa depan, akan selalu kukatakan, meski hidup kadang sulit, hidup akan terus hidup. Dan hidup akan begini-begini saja.

I have been told that my destiny is written. I have no power over Him. I was a visitor to doubt. To inquire about the fate. He said, “No, no, don’t be afraid.” You are the writer of destiny — terjemahan penggalan lirik lagu أنا

--

--

Ervina Lutfi
Ervina Lutfi

Written by Ervina Lutfi

“…you write because the brain is an endless wilderness, whose roughest terrain can be traveled only with a pencil.”