Merayakan Makan dan Lebaran di Keluarga Kami

happy eid mubarak!

Lebaran tahun ini terasa cukup istimewa karena bertepatan juga dengan hari jadiku yang ke-27. Sebagai individu, pada usia segitu, mestinya aku cukup matang dan dewasa dalam memaknai setiap tahun idulfitri yang kulewati, proses bermaafan dengan orang-orang dan diri-sendiri, hingga menanggapi pertanyaan basa-basi.

Tidak seperti beberapa orang yang semakin dewasa konon semakin malas beridulfitri, bagiku, semakin dewasa aku justru merindukan momen lebaran — sepaket dengan ramadan. Karena tahun lalu sebulan penuh kuhabiskan ramadan bersama ibu dan bapak — juga suami baruku, sejujurnya di tahun ini aku sempat khawatir bagaimana kami melewati puasa di apartemen kami BSD. Siapa yang akan bangunin? Sahur pakai apa? Bukanya gimana? Ada yang jualan takjil nggak ya? Kami hampir memutuskan puasa di Jogja, tapi Angga mendapatkan pekerjaan barunya di April ini dan menurut kami lebih enak tinggal di BSD agar jika sewaktu-waktu perlu ke Jakarta tidak terlalu repot.

Surprisingly segala hal terlewati baik-baik saja, termasuk momen mudik kami yang mengarungi kota-kota dari Jawa Tengah, Jogja, hingga ujung Jawa Timur. Kami bahkan sempat melakukan photoshot dengan RPP di Jogja, jalan-jalan ke Malioboro KW-nya Madiun, hingga lebaran di rumah orang tuaku di Jawa Tengah.

Kembali ke momen lebaran. Tidak seperti beberapa orang yang konon semakin malas lebaran ketika mereka dewasa, bagiku lebaran menjadi menarik karena menjadi satu-satunya waktu semua orang berkumpul, dan di keluargaku, momen berkumpul artinya akan ada banyak makanan yang tidak bisa didapatkan di manapun kami tinggal.

Barangkali aku beruntung karena ibuku adalah pemasak ulung. Ibu memasak dengan bumbu yang takarannya tidak bisa ditandingi warung makan manapun — ini membuatku jadi sensitif jika makan masakan siapapun yang pelit bumbu aku pasti langsung tahu dan bilang makanannya nggak enak karena kurang bumbu.

Di keluargaku, lebaran artinya akan ada banyak sekali makanan yang menyatukan cita rasa lidah kami. Kami tidak ribut mengenai pandangan politik, tidak bicara kekayaan, cuma ini kuahnya kayak agak kurang manteb, mungkin perlu perasan jeruk sedikit, atau tomyum buatanku ini rasanya pas, cocok di lidah omku yang seumur hidupnya katanya belum pernah makan tomyum.

Lebaran di keluargaku adalah merasakan momen sarapan bersama, buka bersama, menikmati sajian opor, aneka olahan cumi, udang, dan ikan nila, swike bebek, mangut kepala ikan manyung, hingga nasi gandul.

Kalaupun ada satu atau dua orang yang dengan iseng bertanya kapan aku anak punya anak, atau apakah aku sudah hamil — berat badanku nambah dari waktu aku menikah, aku cuma jawab hehehehe. Itupun biasanya pertanyaan yang dilontarkan bukan dari keluarga tier-1.

Aku belajar memaknai segala basa-basi yang tidak ada artinya, karena toh jika aku sudah atau belum punya anak, itu tidak akan mengganggu hidup mereka. Sebaliknya, pertanyaan itu juga akan berlalu begitu saja tanpa mengganggu sedikitpun pekerjaanku, hidupku, cicilanku wqwq. Jadi, untuk apa aku harus overthinking? Toh, pertanyaan macam apa sih, yang bisa ditanyakan pada orang yang ditemuinya setahun sekali? Kan nggak mungkin tiba-tiba diajak menghancurkan patriarki.

Sebaliknya, aku belajar untuk memaknai lebaran dan pertemuanku dengan orang-orang ini untuk lebih mengenal asal-usulku. Aku senang mengetahui ada sepupuku yang sekarang jadi Camat di Mijen atau sepupuku yang jadi hafidzah Quran, bagaimana almarhum pakde dulu pernah jadi buronan Orde Baru, cerita kakek Angga yang jadi kepala desa 32 tahun udah kayak Suharto, cerita-cerita leluhur dari ibuku yang ternyata salah satu priyayi desa setempat dengan legacy berupa surau dan madrasah yang masih ada hingga kini, atau cerita buyut dari nenek yang kami panggil Nyenyen, yang sangat progresif mengumpulkan pundi-pundi kekayaan hasil sifat pelitnya yang nggak kira-kira — mungkin Nyenyen adalah figur wanita feminis pertama di silsilah keluargaku wqwq.

Meski kehidupan terus berubah — dan apapun yang tersisa dari mereka cuma sebatas cerita, tapi mengetahui apa yang sudah terjadi pada orang-orang yang mewariskan darahnya padaku masih saja menarik. Oleh karena itu, lebaran, dengan perayaan makan dan pertemuan dengan orang-orang jauh ini selalu menarik di mataku.

Lebih lanjut, lebaran memberiku jeda waktu untuk menguliti pengalaman spiritualku membaca ayat-ayat-Nya kembali, mendengarkan kebutuhan terdalam dari psikologisku yang masih jauh dari kata ideal sebagai individu, juga lebih banyak mensyukuri nikmat-Nya yang luar biasa sampai usiaku segini.

--

--

a writer & professional B2B marketer

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store