Sitemap

Perayaan Pernikahan Kayu

3 min readApr 10, 2026

--

source: pexels

Suamiku, jujur aja tadinya aku tidak pernah merasa menikah seserius itu sampai pada hari perkawinan kita yang penuh bunga; aku melihat orang-orang berdoa dengan khusyu, ada ayat-ayat suci dibacakan, doa-doa baik diamini sebanyak itu orang, ada keluargaku, ada keluargamu — ah ibumu menangis di hari pernikahan kita, lalu guru ngajiku memberikan nasihat-nasihat perkawinan. Katanya, menikah adalah ibadah terlama manusia, sebab itu setan membencinya.

Sejak saat itu kupikir kita setuju: menikah ternyata seserius itu dan itulah mengapa ia dibedakan dari hanya relasi pacaran kita yang lucu-lucuan, atau jika kita hanya memutuskan tinggal satu kontrakan.

Dalam pernikahan, ada marwah yang harus dijaga, sebab menikah adalah hal seserius itu — seperti yang kita lihat lima tahun lalu. Untuk alasan itu pula, tidak seorang pun boleh dengan lancang menginjak-injak kehormatan pernikahanmu, pernikahan kita —percayalah, karena menikah seserius itu.

Saat orang melecehkan pernikahanmu, kurasa, bukan hanya aku yang marah. Pada pernikahan, urusan-urusan kita tidak hanya berhenti padaku atau padamu, tapi ada Tuhan di antaranya. Jadi kamu tenang aja, kalau kita tidak bisa mengatasinya, biar jadi urusan Tuhan aja. Toh, dalam pernikahan kita, Tuhan menjanjikan tidak ada niat buruk dan hal-hal tercela yang muncul daripadanya. Kita menikah karena masih percaya Tuhan, dan oleh sebab Ia menciptakan kasih sayang dan perasaan tenteram di antara kita berdua.

Ternyata ini sudah April 2026 — lima tahun sejak kita menikah seserius itu. Pada usia ini, orang biasanya menghadiahkan kayu dalam perayaan hari jadi pernikahan. Ia melambangkan kekuatan, durabilitas, serta perasaan yang mengakar. Sebagaimana pohon yang bertumbuh, di usia ini mestinya pernikahan kita mulai matang. Batang-batang kita mulai mengeras, menjulang tinggi dengan akar yang menghujam kokoh ke dalam tanah. Dahan-dahan baru mulai bermunculan dan daun-daun semakin rimbun. Pernikahan kita, mestinya sudah bisa menjadi tempat bernaung.

Selama lima tahun terakhir, tentu kita ingat ada banyak sekali hal yang terjadi — terlebih akhir-akhir ini. Boleh jadi kamu tidak percaya, tapi aku, selama ini, belum pernah sekalipun kecewa pada apa yang Tuhan beri. Jika pun aku harus marah karena mauku tak terpenuhi saat ini, biasanya itu cuma karena Tuhan mau aku bersabar, lalu Ia akhirnya pun memberi.

Ini hampir satu dekade sejak pertemuan kita di Yogyakarta. Jelas aku masih ingat, hari itu kamu butut, buruk, perokok, pengangguran, dan terlihat tidak punya masa depan. Tapi aku — sebagaimana kamu sering bilang — adalah perempuan setengah gila-setengah dukun. Aku seorang pembaca ulung, aku pintar matematika, dan aku suka berjudi. Aku percaya perjudianku akan selalu menang besar, juga dalam pernikahan ini. Karena aku yakin kita menikah bukan untuk hal yang tercela: kita menikah karena Tuhan menciptakan kasih sayang dan rasa tenteram di antara kita.

Sambil aku menulis catatan ini, aku mendengar lagu Di Akhir Perang dari Nadin Amizah. Hari ini, seperti hari-hari lain di tanggal 10 April dalam hidupmu berikutnya, akan selalu kamu ingat sebagai hari bersejarah; hal-hal penting yang menunjukkan kuasa dan kasih sayang-Nya selalu terjadi pada hari ini.

Perlahan akan ku ajarkan cara menanam, menuai baik-buruk di dunia. Kuwarnai tanganmu yang mati, biar kau lihat dunia tak lagi menyakiti.

Dan ku bisikkan asal kau tahu bagaimana rasanya bahagia sepenuhnya sampai ku merasa lega, kau merasa lega. Ku sampai di sana.

--

--

Ervina Lutfi
Ervina Lutfi

Written by Ervina Lutfi

“…you write because the brain is an endless wilderness, whose roughest terrain can be traveled only with a pencil.”