Perempuan Karier Menilai Pernikahan

Tulisan ini berawal dari datangnya berita dari salah satu teman perempuanku [yang jumlahnya sangat terbatas] memutuskan untuk menikah di usia 20an — sepertiku. Sebagai teman, tentu saja aku merasa sangat senang.

Kabar tersebut sekaligus mengingatkanku bahwa hampir setahun yang lalu ternyata aku [juga] menikah. Bicara tentang kami yang ternyata menikah di usia semuda ini, aku jujur merasa aneh. Rasanya kayak.. nggak nyangka aja.

Tandemku sama dia dimulai dari kami secara nggak sengaja ketemu di kampus, membuat project waktu startup lagi hits-hitsnya di kalangan mahasiswa. Dia jadi orang produk, aku jadi orang marketing. Hal itu berlanjut ke kerjaan pertama kami di sebuah perusahaan teknologi cukup famous di Jogja.

Kalau diingat-ingat, branding company itu sampai sekarang adalah hasil ‘kengawuran’ kami. Sampai sekarang aku jujur merasa bersalah — dan agak malu. Karena ya ternyata kami pernah di fase yang super-sok-tau-segalanya seperti itu padahal masih cupu — dunning-kruger effect hehe.

Sebagai perempuan, kami berdua cukup ambis dalam pekerjaan. We work for money, climbing career ladder dan berevolusi dari orang paling sok tau sampai jadi orang yang takut jadi yang paling tolol sendiri di ruangan.

Teman-teman kami [yang kebanyakan cowok] sering bilang, orang kayak kami pasti nggak kepikiran mau menikah — dan yang mau menikahi pun mikir-mikir. Makanya ketika tahun lalu aku bilang mau menikah, beberapa orang kaget sekaligus nggak yakin apakah ini prank atau sungguhan.

Jujur aku selalu kepikiran, apa aku terlalu cepet ya nikahnya? Apakah ini menghalangi karierku? Apakah decisionku [yang hampir nggak pernah salah dan nggak pernah kusesali] kali ini salah — lalu kusesali?

Hampir setahun ini aku sering kepikiran sampai beberapa waktu lalu aku tau temanku itu [juga] menikah. Tiba-tiba semuanya jadi terang. Meski aku nggak tau apa yang ada di pikiran dia sampai memutuskan menikah, paling nggak di diriku sendiri aku jadi yakin.. oh nggak, nggak, ini nggak salah. Nggak ada yang salah dari keputusanku menikah.

Menikah dan tidak menikah ternyata bukan faktor yang paling penting, melainkan “dengan siapa” aku memutuskan melakukannya.

Tapi, tiba-tiba aku jadi berpikir bahwa pernikahan memang bukan faktor penentunya. Pernikahan tidak menghalangi karierku, suami insecure-lah yang khawatir istrinya punya karier lebih bagus daripada dirinya. Menikah tidak menghalangiku untuk bebas berekspresi, suami rese-lah yang ngatur dan lagi-lagi insecure kalau istrinya diberi kewenangan untuk melakukan keputusan-keputusannya sendiri.

Menurutku, seorang perempuan tidak akan berubah valuenya sedikitpun dengannya menikah atau tidak menikah. Hal ini membuat pernikahan tidak menjadikan valuemu sebagai perempuan naik/turun atau sebaliknya tidak menikah artinya kamu lebih superior, lebih inferior, atau semacamnya. Sama sekali tidak.

Pada dasarnya, ketika sebagai perempuan kamu tidak punya value ya mau kamu menikah atau tidak, tetep aja kamu tidak punya value. Pun ketika kamu sebagai perempuan matang, berdedikasi, punya value tinggi, menikah atau tidak pun tidak akan mengubah nilai dalam dirimu. Jika kamu punya karier, kamu akan tetap punya karier. Jika kamu persistent dalam meraih cita-citamu, ya kamu akan tetap jadi seperti itu.

Moreover, buatku sendiri menikahi orang yang tepat justru menjadi katalis positif yang membantuku mempercepat tujuan-tujuanku dalam banyak hal. Menikahi orang yang tepat juga bukan berarti aku menyerahkan hidupku pada orang lain, namun lebih kepada aku memilih orang yang juga memilihku, kemudian kami berkomitmen untuk work together towards the same goals, dalam sebuah ikatan yang diakui oleh keyakinan kami, society, bahkan juga [kalau ini penting] negara.

Dalam banyak hal aku melihat menikah bisa jadi mengerikan dan sulit. Namun, aku juga melihat orang-orang yang bertahan bahagia pada pernikahannya, hidup saling mengasihi selama puluhan tahun — dan inilah yang lebih pantas diupayakan ketimbang sibuk mencari value yang sejak awal sudah ada di diriku.

Pernikahan salah satu teman perempuanku itu, makes me realise that nothing’s wrong with my decision — selalu seperti itu.

--

--

a writer & professional B2B marketer

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store