Sitemap

Sebab Mensyukuri Hidup, Aku Tidak Mau Rezim Sialan Itu Datang Kembali

4 min readMar 25, 2025

--

source: netflix.com

Di tengah huru-hara rezim orde paling baru ini, aku masih menyempatkan diri menonton serial TV Korea berjudul “When Life Gives You Tangerine.”

Sebuah tontonan yang manis. Bukan aku mau meromantisasi kawin dengan laki-laki miskin ya, tapi ketika melihat series ini, aku mengamini, “Bener juga. Kayaknya memang penting menikahi orang yang menyukaimu lebih dulu.”

Hidup di tengah keluarga miskin dan pas-pasan membuatku merasa aku perlu teman untuk menghadapi dunia yang kejam ini. Dan ketika ingat masih memiliki orang yang selalu menyukaiku, aku pasti akan terhibur, “Ah, seenggaknya aku punya teman nangis hari ini.”

Dulu sebelum menikah, Bapak pernah berkata dengan agak getir padaku, “Ternyata nasibmu kayak Bapak dan Ibu; harus menikah tanpa modal dari orang tua, mulai semuanya dari nol.”

Bapak barangkali agak kecewa. Sebab hidupku yang sejak kecil diupayakan sebaik-baiknya ini, dan jauh lebih baik dari ibuku dulu, tetap berakhir dengan nasib yang kurang lebih sama sepertinya — harus hidup mulai dari nol. Yang miskin akan kawin dengan sesama orang miskin juga.

Meski demikian aku tidak kecewa-kecewa amat. Aku dan suamiku sudah dimodali bekal pendidikan dan nilai-nilai yang diberikan orang tua kami. Maka kubilang, “Nggak papa. Akan aku lawan dunia ini sebisa-bisanya!”

Kini pernikahan kami melewati tahun ke-4 dan masuk usia ke-5 tahun — kami berakhir dengan KPR belasan tahun dan hidup yang menabrak prinsip-prinsip dari financial advisor manapun. WKWK.

Meski demikian aku mensyukuri pernikahanku seperti aku mensyukuri hidupku dan kemiskinan orang tuaku dengan baik-baik saja. Pasanganku itu, yang tidak kaya itu, adalah bagian dari hal-hal yang kudoakan dulu; ketika aku bekerja, pasanganku juga bekerja. Pasanganku tidak melarang atau menyuruhku bekerja; aku bekerja dengan prinsip suka cita. Ketika aku memasak, pasanganku mencuci piring. Ketika aku malas memasak, kami jajan di luar, dan ketika suamiku mau memasak, ya dia akan masak dengan senang hati. Aku membersihkan rumah, jadi suamiku menggosok kamar mandi. Aku mengganti sprei, suamiku merapikan sprei kotor untuk diambil tukang laundry.

Aku tidak dilarang untuk menghabiskan uangku ke salon atau mengikuti yoga. Ia malah memberiku uang atau membayar tagihan kartu kreditku. Suamiku tidak melarangku ngegym dengan personal trainer, karena dia juga ikut ngegym. Aku tidak dilarang bepergian dengan teman-temanku, bersosialisasi dengan rekan kantor layaknya perempuan umur 20an, juga berdemonstrasi dan menjadi SJW. Lebih-lebih, suamiku akan dengan senang hati ngetroll buzzeRp di internet dengan meme-meme fufufafa.

Meski tidak kaya-raya, hal-hal kecil ini ternyata adalah berkah dan bagian dari hal-hal yang aku doakan dulu. Tentu ini terjadi bukan tanpa upaya. Kami melewati pasang-surut dan remuk-redam konflik untuk tetap baik-baik aja.

Hidup dikelilingi kemiskinan membuatku lebih arif memandang miskin itu sendiri. Aku jadi menyadari ada hal yang sangat salah dari sistem kita.

Katakanlah aku cukup beruntung, suamiku cukup beruntung, karena kami bisa sekolah tinggi. Meski sekolah tinggi tidak membuatku kaya-raya, paling tidak sekolah tinggi membuat pikiranku terbuka untuk mengurai dari simpul mana aku bisa memutus lingkaran kemiskinan yang jahat itu.

Dan pada itu, aku jadi sadar pula, miskin itu ternyata bukan 100% salahmu. Orang tuaku miskin mungkin bukan 100% salah mereka. Ada kesalahan rezim yang fatal banget — rezim yang membuat sistem pendidikan sulit diraih anak-anak miskin seperti bapakku, sistem yang membuat lapangan pekerjaan tidak tersedia untuk mereka yang tidak berpendidikan, sistem pula yang membuat upah tidak manusiawi.

Inilah yang disebut dengan kemiskinan struktural — miskin yang tidak bisa diselesaikan dengan solusi-solusi personal; bahwa kamu harus belajar, bekerja keras, atau bekerja cerdas. Atau kamu harus menabung dan berinvestasi. Nggak, nggak.. nggak bisa.

Negara-negara seperti Korea Selatan, Malaysia, atau bahkan Singapura yang memiliki periode kemerdekaan mirip-mirip dengan kita, sekarang sudah jadi negara maju, tapi negara kita gini-gini aja.

Kupikir ini karena di awal masa kelahirannya, kita punya presiden yang bermulut besar — seperti dikatakan LKY dalam bukunya, menyukai kemewahan dan keindahan alih-alih membangun pondasi yang kokoh secara struktural. Lalu setelahnya, selama 32 tahun kita dipimpin oleh presiden korup yang otoriter. Presiden yang di masa kepemimpinannya, anak orang miskin dan tanpa koneksi sepertiku hanya bisa bermimpi untuk hidup lebih baik. Karena kalau kamu ingin jadi pegawai negeri aja, kamu harus minimal punya Bapak, Ibu, Om, Pakdhe atau Budhe di instansi yang kamu masuki.

Ibu pernah cerita bagaimana orang yang kaya dan bekerja di Departemen Agama itu bisa menjadikan seluruh kerabat dekatnya menjadi PNS di bawah instansi yang dipimpinnya. Orang seperti ibuku yang miskin, atau seperti bapakku yang bahkan untuk lulus SMA aja tidak bisa karena tidak punya biaya, macam mana mau hidup layak meski dia bintang di sekolahnya sekalipun.

Lalu sekarang, (mantan) menantu presiden korup itu, ingin mengulangi rezim sialan itu? Ketika ekonomiku membaik dan aku baru mulai berkeluarga dengan pasanganku? Wahh.. tentu aku tidak akan membiarkannya.

Demi apapun aku akan ikut melawan. Sekecil-kecilnya perlawanan adalah tetap perlawanan. Paling tidak, suatu hari, kalau aku memutuskan punya anak, aku tidak bersalah secara moral kepada anakku karena aku pernah berusaha melawan.

Semoga pula, jika suatu hari aku disilaukan dengan harta kekayaan 41Miliar, aku tidak akan lupa bahwa hari-hari ini aku membaca juga Soe Hok Gie, Pramoedya atau Tan Malaka— seperti Hasan Nasbi.

--

--

Ervina Lutfi
Ervina Lutfi

Written by Ervina Lutfi

“…you write because the brain is an endless wilderness, whose roughest terrain can be traveled only with a pencil.”