The Sparks
Beberapa waktu lalu, seperti biasa, terjadi keriuhan di Twitter dengan diskursus seputar istri versus LC — lady companion. Tenang, jangan marah dulu. Aku pun bingung kenapa bisa status istri dibandingkan dengan LC. Tapi sebelum emosi lebih jauh, aku mencoba memahami diskursus yang terjadi.
Pada beberapa kelompok orang, tentu saja maksudku adalah laki-laki, rupanya, LC adalah sosok penyayang yang menghibur. LC menghibur dari hiruk-pikuk dan jenuhnya kehidupan orang dewasa. Bagi kelompok orang ini, LC adalah solusi yang praktis, mudah, dan berbeda dengan apa yang dialaminya sehari-hari.
Seorang laki-laki membandingkan LC yang kepadanya, mereka selalu menyenangkan. LC berdandan cantik, tersenyum ceria, dan memvalidasi apapun perasaannya. Berbeda dengan istrinya yang selalu kusut, cemberut, dan menuntut. Bagi laki-laki seperti ini, tentu lebih menyenangkan menghabiskan waktu (dan uang) dengan LC, karena mereka ‘mudah’ dan menyenangkan.
Sepintas memang kayaknya pikiran mereka masuk akal. Tapi ini jelas adalah pikiran yang sempit. LC menyenangkan karena ia ditemui satu-dua kali dalam seminggu, dalam occasional ‘kerja’, sementara istrinya hidup dengannya 24/7. Belum kalau waktu ini diakumulasi dengan pernikahan yang sudah bertahun-tahun. Bayangkan, betapa signifikan perbedaannya.
Menghabiskan waktu dengan LC, yang dalam hal ini adalah orang asing, sepintas terasa menyenangkan, karena selalu ada ‘letupan-letupan kecil’ pada hal-hal baru yang mereka alami. Ini manusiawi. Yang luput dari pikiran orang adalah, dalam hal ini, merawat ingatan.
Bagaimana rasanya ketika pertama kali bertemu dengan istrimu yang suka menuntut itu? Bagaimana rasanya ketika pertama kali kalian menikah? Bagaimana rasanya pertama kali mendengar ceritanya soal hal-hal yang kini kamu ketahui semuanya itu? Bagaimana rasanya pertama kali nongkrong dan makan berdua? Bagaimana rasanya pertama kali jalan-jalan berdua, atau menggandeng tangannya, atau berbuat sesuatu — apapun itu — yang pertama kali dengannya?
Orang sering lupa kalo faktor terjelek dari menikah adalah kalian hidup bareng 24/7. Artinya semua hal yang baik dan yang buruk udah tahu semua. Dan makin lama, rasa ‘udah tahu’ itu terakumulasi menjadi satu kebosanan yang menghilangkan letupan-letupan kecil saat kita sama dia. Semuanya jadi biasa aja dan cenderung tidak menarik.
Pada saat ini, bertemu dengan orang-orang baru tentu menyenangkan.
Kalau kamu merasa tidak relate karena diskursus LC hanya berkutat pada masyarakat kelas bawah yang tidak sanggup merawat dan menghidupi istri untuk bisa semenarik LC, kamu salah.
Masalah bosan dan kehilangan ‘sparks’ ini terjadi di mana-mana. Dia terjadi di kantor-kantor, di dalam rapat-rapat dengan klien, atau dalam pergaulan hobi masyarakat ibu kota yang makin lama makin mahal itu.
Pernah dengar nggak, ada orang rajin ke kantor karena bosen di rumah? Yes, benar. Rumah memang bisa semembosankan itu karena semua hal yang kamu dapat seperti ‘taken for granted’ aja. Saat di rumah, entah karena kamu sudah senyaman itu, atau kamu merasa sudah diterima lahir-batin, orang cenderung jadi versi terjelek dari dirinya. Beberapa orang bisa nggak mandi, pakai baju kusut, dan jadi gembel kalau di rumah.
Kenapa orang bisa nggak mandi dan merasa se-fine itu tapi selalu dandan rapi bertabur parfum jutaan rupiah saat ke kantor? Kenapa orang bisa sebiasa itu ‘dibantu setiap hari’ tapi merasa hutang budi saat ditraktir makan sekali dua kali oleh rekan kantor? Atau, pernah nggak kamu menolak ajakan yang perlu effort kecil untuk orang yang hidup sama kamu 24/7 tapi melakukan segala cara untuk entertaining teman? Pernah nggak sih, ada orang pakai sandal jepit buluk ke meeting dengan rekan kerja? Ya nggak bakal lah! Karena di hadapan orang asing, orang akan jadi versi terbaik dari dirinya — to make them impressed!
Sementara di depan orang yang hidup dengannya 24/7, semuanya kamu dapat secara cuma-cuma. Faktor ini juga yang kerap dilupakan bapak-bapak pecinta LC, atau orang-orang kantoran yang seru dengan persahabatan kantornya itu :)
Kalau kamu hidup di rumah yang selalu rapi, pakai kamar mandi yang selalu bersih, atau mendapati baju-baju kotor tiba-tiba udah rapi dari laundry, itu karena ada tangan orang lain yang ngerjain.
Para lelaki kerap berpikir memberi uang — yang sebenarnya nggak seberapa itu, adalah satu-satunya faktor dan mereka merasa kontribusinya sepenting dan sebesar itu. Yang paling menyebalkan di sini adalah kelas menengah. Tentu karena duit mereka ini sebenarnya kentang, tapi merasa udah sebanyak itu. LOL. Seriously. Belum lagi perasaan ‘ngemis’ yang sewaktu-waktu akan diungkit-ungkit kalau egonya kesentil.
Inilah kenapa menurutku penting untuk perempuan tetap bekerja dan sibuk dengan sesuatu yang menghasilkan uang untuknya — apapun itu. Karena setiap manusia punya ketololan dan sesat pikir ini dalam setiap dirinya — doesn’t matter how smart they are atau how much money they can earn dari pekerjaannya.
Diskursus Twitter soal LC itu, barangkali adalah gambaran fenomena yang terjadi di sekitar kita. Sesuatu yang kayaknya normal-normal aja dan lucunya hampir diterima — oleh sebagian orang?
I was surprised beberapa waktu lalu suamiku bilang kalau rekan kerjanya cerita, dia baru baikan dengan istrinya karena istrinya marah ia chat-chatan dengan seorang sales dari perusahaan rekanan. I was like, “Dia ribut dengan istrinya gara-gara ibu-ibu sales yang juga udah punya 3 anak? Dan temenmu cerita kayak gitu biasa aja ke kamu? Nggak malu, gitu?”
Lalu suamiku bilang, “Dia emang orangnya genit gitu, jangankan sama orang yang udah dewasa, sama anak-anak kecil fresh grad aja dia genit.”
And I was more suprised waktu lihat orangnya kayak gitu doang njinx. Like.. he’s not even handsome and he’s just regular employee… like.. lo tuh masih miskin weyyy, lo bukan sekelas Harry Tanoe.
I start to think dunia perkantoran di Jakarta memang seasu itu.
